" Peka
terhadap masyarakat sekitar dan permasalahan-permasalahannya merupakan salah
satu yang dapat dilakukan oleh mahasiswa " . Pernyataan tersebut sudah
sering kita dengar. Ya. Mahasiswa. Kata Mahasiswa dibentuk dari dua kata dasar
yaitu “maha” dan “siswa”. Maha berarti besar atau agung, sedangkan siswa
berarti orang yang sedang belajar. Kombinasi dua kata ini menunjuk pada suatu
kelebihan tertentu bagi penyandangnya. Dengan demikian, mahasiswa adalah
anggota dari suatu masyarakat tertentu yang merupakan “elit” intelektual dengan
tanggung-jawab terhadap ilmu dan masyarakat yang melekat pada dirinya, sesuai
dengan “tridarma” lembaga tempat ia bernaung.
Mahasiswa adalah anggota masyarakat yang berada pada tataran elit karena kelebihan yang dimilikinya, yang dengan demikian mempunyai kekhasan fungsi, peran dan tanggung-jawab.
Dari identitas dirinya tersebut, mahasiswa sekaligus mempunyai tanggung jawab intelektual, tanggung jawab sosial, dan tanggungjawab moral .
Mahasiswa
memiliki peran yang istimewa yang dikelompokkan dalam empat fungsi : agent
of change, social control, moral force dan iron stock. Dengan fungsi
tersebut, tugas besar diemban mahasiswa yang diharapkan dapat mewujudkan
perubahan bangsa Indonesia ini.
Peran mahasiswa sebagai Agent of Change :
Sebagai agen
perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah
negeri lalu dengan gagahnya mengusir penjahat-penjahat dan dengan gagah pula
sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk
setempat. Dalam artian kita tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan
menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Sikap kritis mahasiswa
sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak
berkompeten menjadi gerah dan cemas.
Sadar atau
tidak, telah banyak pembodohan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimpin
bangsa ini. Kita sebagai mahasiswa seharusnya berpikir untuk mengembalikan dan
mengubah semua ini. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan kearah yang positif
dan tidak menghilangkan jati diri kita sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia.
Namun untuk mengubah sebuah negara, hal utama yang harus dirubah terlebih
dahulu adalah diri sendiri.
Peran mahasiswa sebagai Social Control :
Hari ini
korupsi semakin memprihatinkan, hukum bisa dibeli, biaya pendidikan yang mahal,
serta berbagai persoalan lainnya. Tentu hal ini tidak dirasakan bagi mereka
yang berkantong tebal, akan tetapi golongan menengah kebawah sangat
merasaknnya. Inilah mengapa kita sebagai mahasiswa harus bertindak serta
berperan aktif dengan ilmu dan kemampuan yang kita miliki.
Peran mahasiswa
sebagai social control terjadi ketika ada hal yang tidak beres atau ganjil
dalam masyrakat. Mahasiswa sudah selayaknya memberontak terhadap
kebusukan-kebusukan dalam birokrasi yang selama ini dianggap lasim. Lalu jika
mahasiswa acuh dan tidak peduli dengan lingkungan, maka harapan seperti apa
yang pantas disematkan pada pundak mahasiswa?
Kita sebagai
mahasiswa seharusnya menumbuhkan jiwa kepedulian social yang peduli terhadap
masyrakat karena kita adalah bagian dari mereka. Kepedulian tersebut tidak
hanya diwujudkan dengan demo atau turun kejalan saja. Melainkan dari
pemikiran-pemikiran cemerlang mahasiswa, diskusi-diskusi, atau memberikan
bantuan moril dan materil kepada masyarakat dan bangsa kita.
Peran mahasiswa
sebagai Moral Force :
Mahasiswa
sebagai “moral force”, kita sebagai mahasiswa berperan sebagai kekuatan moral.
Gelar moral force ini diberikan kepada kita sebagai mahasiswa oleh masyarakat,
sebab kitalah yang akan menjadi kekuatan moral untuk negri. Kijta sebagai
mahasiswa harus memiliki acuan dasar dalam berprilaku. Acuan dasar itu adalah
tingkah laku, perkataan, cara berpakaian, cara bersikap, dan lain sebagainya yang
berhubungan dengan moral yang baik. Semua acuan itu harus kita perbaiki agar
kita memiliki moral yang baik, bukanya moral yang buruk. Disinilah kita
dituntut untuk keintelektualan kita dalam kekuatan moral kita didalam
masyarakat.
Peran mahasiswa sebagai Iron Stock :
Para Pemimpin
republic ini hanya berhasil membangun kekesalan rakyatnya dan menanam bibit
pesimisme. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan memiliki
kemampuan, ketrampilan, dan akhlak mulia untuk menjadi calon pemimpin siap pakai.
Intinya mahasiswa itu merupakan asset, cadangan, dan harapan bangsa untuk masa
depan.
Sejarah telah
membuktikan bahwa di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi,
mahasiswa telah berhasil melumpuhkan resim orde baru dan membawa Indonesia ke
dalam suatu era yang saat ini sedang bergulir, yakni era reformasi.
Bukan tidak
mungkin sosok pemimpin dan negarawan yang selama ini didambakan, akan lahir
dari kampus. Cuma sistem demokrasi Indonesia saat ini lebih banyak menciptakan
elit yang ingin tampil dan membanggakan diri. Mereka mendapatkan tempat karena
politick uang, sehingga memunculkan para politisi instant.
Lantas sekarang
apa yang bisa kita lakukan dalam memenuhi peran iron stock tersebut? Mahasiswa
tidak cukup jika hanya sebagai akademisi intelektual yg hanya duduk
mendengarkan dosen dalam ruangan perkuliahan. Kita harus memperkaya diri kita
dengan pengetahuan baik itu dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan.
Mahasiswa
sebagai iron stock berarti mahasiswa seoarang calon
pemimpin bangsa masa depan yang akan menggantikan generasi yang telah
ada, sehingga tidak cukup hanya dengan memupuk ilmu spesifik saja. Perlu adanya
soft skill seperti leadership, kemampuan memposisikan diri, dan sensitivitas
yang tinggi. Pertanyaannya, sebagai seorang mahasiswa, Apakah kita sudah
memiliki itu semua??
Maka lengkaplah
peran mahasiwwa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang didukung dalam
empat peran: agent of change, social control, moral force dan iron stock.
Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah
generasi yang di tunggu-tunggu bangsa ini..
Kitalah
generasi itu.. Hidup mahasiswa..!! Hidup Rakyat Indonesia!!!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar