Konsep diri adalah sesuatu yang harus dipegang teguh
oleh setiap manusia, konsep diri manusia berbeda satu sama lain. Agar kita
dapat mengetahui konsep diri milik kita masing-masing, kita perlu mengetahui
SWOT. Apakah SWOT itu? SWOT merupakan kependekan dari dari Strength ( kekuatan ) , Weakness ( kelemahan ) , Opportunities ( kesempatan ), dan Threats ( ancaman ). Dengan keempat
obyek tersebut, kita dapat memaksimalkan kekuatan diri, menutupi kelemahan
diri, memanfaatkan kesempatan yang ada dan menghindari ancaman yang bisa
merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Sebagai
mahasiswa yang berpendidikan, kita diajarkan untuk berani mengutarakan pendapat
entah itu dalam bentuk pertanyaan, menyanggah, dan mengeluarkan argumen. Dalam
tanda kutip, pendapat kita haruslah didasari oleh hal yang benar berdasarkan
kebenaran, kerja nyata dan usaha konkret. Hilangkan gagasan konsptual yang
tidak bisa dilakukan secara konkret. Gagasan konseptual tidak bisa menciptakan
perubahan. Sebagai mahasiswa, kita juga harus menghilangkan mental takut salah.
Kesalahan bukan halangan untuk menciptakan suatu perubahan, tapi dari kesalahan
tersebut kita bisa belajar dan memperbaiki diri.
Pelajari
dan pahami setiap identitas diri supaya tau bagaimana menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari. Pahami hak, kewajiban serta tanggung jawabnya. Mahasiswa
mempunyai tanggung jawab yang sangat besar ; Pendidikan dan pengajaran,
penelitian dan pengembangan keilmuan, dan pengabdian masyarakat. Intinya semua
adalah tentang kebermanfaatan. Lakukan apa saja yang bisa menunjang perubahan
baik dan perubahan itu dapat bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain dan
negara Indonesia. Mental yang baik adalah mental yang siap disalahkan dan tidak
takut terhadap kritik.
Mahasiswa
harus sadar akan hak, kewajiban serta tanggung jawabmya, tanggung jawab sosial
individual. Caranya? Janganlah persempit tujuan. Pikirkan tujuan yang jelas
lalu lakukan secara konkret ( nyata ). Buat diri sendiri menjadi agent of change untuk bisa membantu kontrol
sosial dalam masyarakat. Mahasiswa harus turun ke masyarakat karena mahasiswa
merupakan wadah penampung dan penyampai aspirasi kepada petinggi-petinggi.
Tidak ada pilihan yang salah, yang ada hanyalah pilihan terbaik dari pikiran
seorang mahasiswa. Keinginan yang besar haruslah dibayar dengan resiko yang besar
pula. Lakukan perubahan , ciptakan perubahan yang bisa bermanfaat untuk orang
banyak.
Melakukan
perubahan bukan hanya dari aksi dan menyuarakan pendapat saja, perubahan bisa
dilakukan juga dengan cara menulis. Kebanyakan orang dan aktivis menulis karena
mengawal pikiran masyarakat / publik, membangun kesadaran nasional, menentang
penyimpangan dan ketidakadilan serta membangun persatuan antar masyarakat.
Tulisan yang baik isa;ah yang mudah dimengerti, komunikatif, sesuai konteks dan
ketentuan serta memenuhi standar etika dan keadilan. Menulis bukan hanya
sekedar menyusun kata-kata menjadi sebuah paragraph, menulis juga harus dengan
mendengarkan dan menyaring dengan kesadaran otak, optimalisasi mekanisme sudut
pandang dan dibutuhkan kreativitas serta keberanian ekspresi jiwa dalam bahasa.
Jadi
bisa disimpulkan bahwa, kita sebagai mahasiswa harus bisa melakukan hal yang
bermanfaat bagi kalangan banyak, dengan cara aksi, menyuarakan pendapat,
menulis dan lainnya. Sebagai mahasiswa juga kita harus bisa memahami diri
sendiri sebelum memahami keadaan sekitar. Dengan begitu, kegiatan yang
dilakukan mahasiswa bisa dibilang memenuhi fungsi kebermanfaatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar