Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah
perkumpulan para pedagang yang
bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Sarekat
dagang Isalam didirikan pada tahun 1911. Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi
sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Organisasi Sarekat Dagang Islam
(SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi
ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta
pada 16 Oktober 1905,
dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim (khususnya
pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa.
Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan Tionghoa tersebut telah lebih maju
usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi daripada penduduk Hindia
Belanda lainnya. Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda
tersebut kemudian menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran di
antara kaum pribumi yang biasa disebut sebagai Inlanders.
SDI merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan
pada agama Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah
pimpinan H. Samanhudi, perkumpulan ini berkembang pesat hingga menjadi
perkumpulan yang berpengaruh. R.M.
Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia.
Pada tahun 1910,
Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi semacam itu di Buitenzorg.
Demikian pula, di Surabaya H.O.S. Tjokroaminoto mendirikan organisasi
serupa tahun 1912.
Tjokroaminoto masuk SI bersama Hasan Ali Surati, seorang keturunan India, yang
kelak kemudian memegang keuangan surat kabar SI, Oetusan Hindia. Tjokroaminoto
kemudian dipilih menjadi pemimpin, dan mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam
(SI). Pada tahun 1912,
oleh pimpinannya yang baru Haji Oemar Said Tjokroaminoto, nama SDI diubah
menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya
bergerak dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik.
Tujuan
Sarekat Islam
Garis yang diambil oleh
SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah
panji-panji Islam.
Anggota
Sarekat Dagang Islam
Keanggotaan SDI masih
terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki anggota yang cukup
banyak. Oleh karena itu agar memiliki
anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September
1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam).
Tokoh
Pendiri Serekat Islam
Organisasi Sarekat
Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul
Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi
agama Islam.
Latar
belakang dan tujuan SI
Latar belakang ekonomi
berdirinya Sarekat Islam adalah:
a. perlawanan terhadap
para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina,
b. isyarat pada umat
Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya, dan
c. membuat front
melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.
Tujuan Sarekat dagang
Islam
Tujuan yang ingin
dicapai sesuai dengan anggaran dasarnya adalah:
a. mengembangkan jiwa
berdagang,
b. memberi bantuan
kepada anggotanya yang mengalami kesukaran,
c. memajukan pengajaran
dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumi putera,
d. menentang
pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam,
e. tidak bergerak dalam
bidang politik, dan
f. menggalang persatuan
umat Islam hingga saling tolong menolong.
Kongres Pertama Serikat Islam
Pada
tanggal 20 Januari 1913 Sarekat Islam mengadakan kongres yang pertama di Surabaya.
Dalam kongres ini diambil keputusan bahwa:
- SI bukan partai politik dan tidak akan melawan pemerintah Hindia Belanda.
- Surabaya ditetapkan sebagai pusat SI.
- HOS Tjokroaminoto dipilih sebagai ketua.
- Kongres pertama ini dilanjutkan kongres yang kedua di Surakarta yang menegaskan bahwa SI hanya terbuka bagi rakyat biasa. Para pegawai pemerintah tidak boleh menjadi anggota SI karena dipandang tidak dapat menyalurkan aspirasi rakyat.
Pada tanggal 17-24 Juni 1916 diadakan kongres SI yang ketiga di Bandung. Dalam kongres ini SI sudah mulai melontarkan pernyataan politiknya. SI bercita-cita menyatukan seluruh penduduk Indonesia sebagai suatu bangsa yang berdaulat (merdeka).
Tahun 1917 SI mengadakan kongres yang keempat di Jakarta. Dalam kongres ini SI menegaskan ingin memperoleh pemerintahan sendiri (kemerdekaan).
Dalam kongres ini SI mendesak pemerintah agar membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad). SI mencalonkan H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis sebagai wakilnya di Volksraad.
Antara tahun 1917–1920 perkembangan SI sangat terasa pengaruhnya dalam dunia politik di Indonesia. Corak demokratis dan kesiapan untuk berjuang yang dikedepankan SI, ternyata dimanfaatkan oleh tokoh-tokoh sosialis untuk mengembangkan ajaran Marxis.
Bahkan beberapa pimpinan SI menjadi pelopor ajaran Marxis (sosialis) di Indonesia dan berhasil menghasut sebagian anggota SI.
Pemimpin-pemimpin SI
yang merupakan pelopor ajaran Marxis (sosialis) di antaranya Semaun dan Darsono.
Sebagai
akibat masuknya paham sosialis ke tubuh SI yang dibawa Sneevliet melalui Semaun
CS, pada tahun 1921 SI pecah menjadi dua:
1) SI sayap kanan atau SI Sayap putih
SI
ini tetap berlandaskan nasionalisme dan keislaman. Tokohnya HOS Cokroaminoto
dan H. Agus Salim serta Surya Pranoto. Pusatnya di Jogjakarta.
2) SI sayap kiri atau SI sayap merah
SI ini berhalauan
sosialis kiri (komunis) yang nantinya menjadi PKI. Tokohnya Semaun. Adapun
pusatnya di Semarang.
Pada Kongres nasional SI ketujuh di Madiun tahun 1923 SI diganti menjadi PSI atau Partai Sarekat Islam. Tujuannya untuk menghapus kesan SI dari pengaruh sosialisme kiri. Tahun 1929 Partai Sarekat Islam (PSI) diganti lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).
Pada Kongres nasional SI ketujuh di Madiun tahun 1923 SI diganti menjadi PSI atau Partai Sarekat Islam. Tujuannya untuk menghapus kesan SI dari pengaruh sosialisme kiri. Tahun 1929 Partai Sarekat Islam (PSI) diganti lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).
Kecepatan tumbuhnya SI
bagaikan meteor dan meluas secara horizontal. SI merupakan organisasi massa
pertama di Indonesia. Antara
tahun 1917 sampai dengan 1920 sangat terasa pengaruhnya di dalam politik
Indonesia. Untuk menyebarkan propaganda perjuangannya, Sarekat Islam
menerbitkan surat kabar yang bernama Utusan Hindia. Pada tanggal 29 Maret 1913, para
pemimpin SI mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg untuk
memperjuangkan SI berbadan hukum. Jawaban dari Idenburg pada tanggal 29 Maret
1913, yaitu SI di bawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto tidak diberi badan hukum. Ironisnya yang mendapat pengakuan
pemerintah kolonial Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang
SI yang ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah kolonial Belanda dalam
memecah belah persatuan SI. Bayangan
perpecahan muncul dari pandangan yang berbeda antara H.O.S Cokroaminoto dengan
Semaun mengenai kapitalisme.
Pada kongres PSI tahun 1929 menyatakan bahwa tujuan
perjuangan adalah mencapai kemedekaan nasional. Karena tujuannya yang jelas
itulah PSI ditambah namanya dengan Indonesia sehingga menjadi Partai Sarekat
Islam Indonesia (PSII). Pada tahun itu juga PSII menggabungkan diri dengan
Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).
Akibat keragaman cara pandang di antara anggota
partai, PSII pecah menjadi beberapa partai politik, di antaranya Partai Islam Indonesia
dipimpin Sukiman, PSII Kartosuwiryo, PSII Abikusno, dan PSII sendiri. Perpecahan itu
melemahkan PSII dalam perjuangannya. Pada Pemilu 1955 PSII menjadi peserta dan
mendapatkan 8 (delapan) kursi parlemen. Kemudian pada Pemilu 1971 pada zaman
Orde Baru, PSII di bawah kepemimpinan H. Anwar Tjokroaminoto kembali menjadi
peserta bersama sembilan partai politik lainnya dan berhasil mendudukkan
wakilnya di DPRRI sejumlah 12 (dua belas orang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar